Wawancara Mahathir Mohamad yang Inspiratif dengan Najwa Shihab


Mahathir Mohamad masih menjadi salah satu orang berpengaruh di dunia. Kepiawaiannya dalam berpolitik tidak diragukan lagi. Kurang dari dua tahun, partai yang baru saja didirikannya mampu mengalahkan partai besar yang sudah puluhan tahun berkuasa, UMNO. Di usia 94 tahun, ia masih saja berkutat di kursi eksekutif, bekerja delapan belas jam dalam sehari. 

Kali ini Mahathir bicara blak-blakan tentang sikap frontalnya mengeluarkan kebijakan mengurangi silabus agama di sekolah-sekolah Malaysia. Tak sedikit pun ia gentar dicap anti-agama, liberal hingga sekuler. Pria yang sudah malang melintang di kancah politik lebih dari 70 tahun ini juga mengungkap penilaiannya terhadap Presiden Jokowi dan bilateral soal TKI, hingga kontradiksi perannya sebagai pemimpin di negara multietnik yang menerapkan politik rasial atau politik identitas.

Mahathir menganggap tugasnya sebagai PM terakhir kali ini 3 kali lipat lebih berat dibanding masa sebelumnya. Hal ini karena pemerintah terdahulu meninggalkan berbagai macam masalah.

Dr. M, panggilannya, melakukan tindakan kontroversial dengan mengurangi jam pelajaran agama Islam di sekolah. Alasannya, karena para guru agama hanya mengenalkan ajaran wajib saja seperti shalat, zakat, dll. Padahal Islam adalah cara hidup, itulah inti yang harus diperkenalkan ke para murid sekolah. Jadi, tidak perlu banyak waktu belajar, tetapi pelajaran lebih bertumpu pada ajaran cara hidup atau nilai-nilai Islam.

Mengenai TKI di Malaysia. Mahathir menganggap bahwa di manapun selalu ada masalah bagi para pekerja migran. Itu adalah sesuatu yang wajar. Dia mengakui bahwa ada layanan dan pelakuan yang kurang baik dari pemerintah dan warga Malaysia. Namun dia memohon agar jangan digeneralisir.

Tentang Cina, Mahathir akan keras jika memang ada masalah. Segala sesuatu harus dikembalikan ke dasar hubungan, jika ternyata tidak adil, maka kita harus keras dan tegas. Malaysia hanya menuntut haknya.

Ikuti wawancara yang sangat menarik ini. Seperti biasa, Najwa Shihab berhasil membangun percakapan yang tajam dan jernih. Walau diambil beberapa waktu lalu, tetapi isi wawancara ini masih sangat relevan dengan situasi saat ini.

Sumber: Najwa Shihab

Posting Komentar

0 Komentar