Potensi REE (Rare Earth Element) Indonesia untuk Membangun Industri Senjata

Bertahun tahun yang lalu "rare earth" dikategorikan sebagai strategic mineral tapi saat ini sudah meningkat menjadi critical mineral. Menariknya "rare earth" ini banyak ditemukan di negeri kita tercinta dan baru baru ini kembali menjadi topik dalam pertemuan Prabowo Subianto dan Luhut Binsar Pandjaitan. Apakah sebenarnya "rare earth element" atau REE?

"Rare earth element" adalah sumber daya alam logam langka dalam tanah yang terdiri dari 17 macam dengan fungsi beragam. Bahan-bahan ini menjadi bahan yang sangat dibutuhkan dengan semakin berkembangnya teknologi, mulai dari untuk kendaraan listrik, batere litium ion, proses nuklir, senjata dan elektronika. Ke-17 elemen itu dihasilkan dari ekstraksi timah dan memiliki harga 10x lebih tinggi dari timah asalnya.


Berikut 7 elemen itu: lanthanum, cerium, praseodymium, neodymium, promethium, samarium, europium, gadolinium, terbium, dysprosium, holmium, erbium, thulium, ytterbium, lutetium, scandium, yttrium. 

Saat ini penghasil REE terbesar dunia adalah Cina dengan produksi 132 ribu metrik ton, kemudian Amerika Serikat dengan 26 ribu, Myanmar 22 ribu, Australia 21 ribu, dan India 3 ribu. Indonesia saat ini tidak masuk 10 besar produsen REE terbesar di dunia, namun memiliki potensi besar. Dua provinsi yang saat ini sudah menghasilkan di Bangka Belitung dan Kalimantan Barat.

Dengan potensi ini, maka tampaknya ada pemikiran untuk memanfaatkan potensi REE ini agar dapat dilakukan secara maksimal dari hulu ke hilir. Pembicaraan 2 tokoh bidang pertahanan itu tampaknya mengarah pada pemanfaatan REE untuk membangun industri pertahanan khususnya produksi senjata. Kita lihat perkembangannya bersama.

Sumber: CNBC Indonesia

Posting Komentar

0 Komentar